Di H-3 Ujian ini, sekilas aku melihat roda kehidupan yang berbalik.
Sekilas aku melihat aspal yang kita kotori.
Aspal yang kita kotori dengan tawa atau caci maki,
Aspal yang kita injak dengan telapak kaki atau sol sepatu
Dengan roda dua atau roda empat
Melihat bangunan-bangunan ini membuat aku terenyuh. Rasanya ringkih.
Kenapa otak seperti tidak mau melepaskan memorinya?
Aku ditanya, "Sekolahmu sudah mau habis, bagaimana itu?"
Apanya yang bagaimana? Apa yang harus aku jawab di saat aku bersedih ingin berpisah tetapi di sisi lain, aku sangat bosan di dalam tempayan.
Akhirnya, aku menjawab, "Yasudah, bagaimana lagi?"
"Bagaimana dengan orang-orangmu dan yang lainnya tentang sekolah?" celetuk si Penanya.
"Apa? Orang-orangku?" aku mengernyit dan ia mengangguk.
Tidakkah ku salah dengar? Ada yang menanyaiku tentang sekumpulan orang.
Hahahahaha, aku sangat ingin tertawa keras.
Tidakkah ingat? Sekumpulan itu tertinggal di aspal-aspal kenangan.
Tidakkah ingat? Sekumpulanku hanya hidup di dalam galeri.
Tidakkah ingat? Tawanya hanya hidup di dalam voice-note.
"Yasudah, mereka punya hidup sendiri." Aku menjawab.
"Apa kau tidak sadar mereka semua marah denganmu?" ia angkat bicara lagi.
"Mereka memang seharusnya marah denganku." Tatapku kepada matanya yang hitam di dalam genangan air coklat pada aspal yang rusak.






No comments:
Post a Comment