Setelah selesai dengannya,
Aku mencoba hal baru.
Berbaur dengan keramaian. Keramaian yang paling menyenangkan adalah yang sesuai hobi,
Dan,
Keramaian yang paling nyaman adalah ramai yang manusianya sibuk sendiri.
Seperti telah mengetahui segalanya, aku berjalan lagi dengan pintu-pintu yang banyak aku hindari.
Dan ternyata, pintu-pintu yang dulu telah aku tutup tanpa sadar, belum bisa terbuka lagi.
Di dalamnya terkunci semua roh yang dulu menemani.
Kini, keramaian mudah sekali untuk dinikmati, sangat mudah bahkan terlalu mudah.
Sendiri di antara manusia lain adalah hal yang biasa.
Semuanya seperti biasa saja. Tidak lagi turun bahkan naik. Inilah rasanya mati semu. Bahkan tertawa saja harus dibuat dan menangis harus mencari alasan. Seperti tidak hidup padahal,
Aku rindu rasanya hidup.
Salahnya, saat aku hidup, aku rindu rasanya mati.
Semuanya kini jelas. Semua tangan yang bergandeng denganku memang masih belum lepas, tapi ada saatnya mereka nanti lepas.
Di saat kepentingan mempunyai cabang yang tidak satu arah.
Sudah terbukti, kepentingan adalah hal nomor satu di hidup manusia.
Seharusnya, pengertian sosiologi tentang
"Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain"
Harus ditambah dengan
"Untuk memenuhi kepentingan masing-masing"
Aku melamun lagi di keramaian ini, melongo ke pintu keluar.
Aku sadar, secara tidak langsung, kita semua adalah korban kepentingan.
Lalu mengapa masih menangis ketika kita ditinggalkan?
Mengapa masih heran?
Aneh, seharusnya kita terbuka,
Itu adalah hal biasa.
Hal yang wajar jika kita takut berkenalan dengan manusia lain,
Aku bahkan menjadi takut untuk mempunyai kenalan
Aku bahkan curiga dengan manusia yang ada di sekelilingku
Aku bahkan mencari tahu,
Apa kepentingan mereka.
Membuatku paranoid, tidak lagi mencari manusia seperti apa yang akan aku dekati,
Tapi malah kepentingan apa yang sama dengan kepentinganku.
Siapa yang harus disalahkan? Ini kenyataan, fakta yang tidak diungkap dengan artikel karena ini hanya perspektif anak SMA yang habis ditinggal relasinya.
Walaupun relasinya masih ada di depan mata, rasanya kosong.
Aku masih merindukan hidup
Tidak.
Aku merindukan relasiku.
Menulis ini, seperti bocah ngelantur yang menggeram untuk mendapatkan permennya.
Aku menulis ini karena kecewa.
Dengan dunia tapi bukan dengan semesta apalagi Tuhan.
Hanya kecewa saja.
Di tahun terakhir, malah mati diam-diam dan mencoba untuk bangkit.
Aku menulis ini karena kecewa
Dimana semua orang?
Manusia-manusia yang dulu ada
Senyum dan tawa spontan, yang tidak dibuat-buat.
Maaf, aku tidak pernah lagi merespon bumi, aku malas
Sudah capek dan sudah bosan
Lebih baik di sini,
Walaupun stagnan.






No comments:
Post a Comment