Well, Selamat siang, semua. Lagi apa? oh iya, lagi baca ini,ya? sebenarnya yang ini agak tidak penting karena didasari perasaan depresi. mungkin, bisa maklum jika ada kata-kata ngawur yang bisa bikin pikiran kalian ngeblur. Minggu ini, entahlah. Won't be my best. ada yang hancur dan kesenangan belum juga datang untuk menjenguk. minggu ini hanya dipenuhi dengan musikalisasi puisi "Kepadamu dengan Penuh Kebencian" yang ditulis oleh Raditya Dika. Yap, rasanya gagal lagi. menyandang status unrequited lagi. seharusnya sudah biasa dengan status ini. malah sudah terkena anti-biotik, tapi malah masih menghasilkan over-dosis. Minggu ini juga gue bertemu dengan kalimat "aku ini penyair kepagian untuk kamu". ya, aku ini penyair yang kepagian. gue hanya terlalu cepat mengambil semua materi dan menjadikannya suatu cerita di memo dengan kata-kata yang entah dari bagian otak mana datangnya. sebenernya, gue ini gak tau mau nulis apa tentang kedepresian ini. mungkin setiap sore di minggu ini yang aku kerjakan hanyalah duduk di teras bersama depresi menunggu kesenangan datang menjenguk membawa buah tangannya seperti minggu-minggu kemarin. tetapi faktor yang membuat kesenangan itu menjenguk, sepertinya tidak akan ada (lagi). mungkin faktor itu ingin melihat gue memandang, berfikir, diam sejenak dalam beberapa waktu. mungkin ia bosan, atau ia malah terganggu? atau yang lebih parah lagi, ia memutuskan untuk pergi dan tidak menjadi pengantar kesenangan itu lagi? ah, gue tidak bisa apa-apa lagi. ingin menuntut? gue ini siapa dia? Ya, gue gagal lagi. kata orang, coba lihat bagaimana gaya tulisannya lalu pakailah logika maka kau tidak akan gagal. ya, tulisannya bersahabat dengan logikaku, bersahabat dengan hatiku juga, tetapi kenyataan masih belum puas menghembuskan angin pupus dan kegagalannya ke arah gue. Ya, f*ck logic. semua ini masuk logika tetapi entahlah, mungkin ada yang salah. sekarang yang terngiang hanya sepatah kalimat dari puisi Raditya Dika:
"aku benci menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. apakah pertanyaanmu itu pancingan? atau retorika? atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan percaya diri?"
Ya, lambat laun, aku hanya menyadari itu retorika belaka. apa retorika? menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, itu Seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis. iya, itu salah satu narkobamu. kata-kata kiasan itu hanya retorika. Kamu itu pengedarnya. dan saat aku berbicara hal ini pada waktu lalu, aku sempat berjanji tidak akan over-dosis, bukan? janji itu patah dimabukkan oleh narkobamu yang 'wow'. Dan di saat aku mulai over-dosis, kamu masih menjadi buron, kamu terdakwa. kenapa kamu harus menjadi buron? padahal aku di sini, terpenjara dan masih over-dosis. ternyata, kamu tidak akan membebaskan aku. ah entahlah, di saat mengetik ini, jemariku hanya di perinta otak yang disponsori oleh hati. aku tau ini berlebihan. aku sedang depresi, mabuk dan over-dosis, bukan?
13:59 WIB
Jumat, 7 Juni 2013
Siang yang memaksa untuk ditumpahkan segala rasanya.
No comments:
Post a Comment