Aku teringat tentang menunggumu. Menunggumu tidak merugikan juga, aku bisa menjadi penyair dadakan di handphoneku. Lihat, dahulu memo di handphoneku berisi tentang kalimat-kalimat menunggu untukmu. Aku pindah, apakah aku masih menyimpannya? Jawbannya, iya. Iya aku masih menyimpan kalimat-kalimat itu terlalu sayang rasanya jika dihapus begitu saja. Lagipula, tentangmu sudah mencapai puluhan, harusnya bisa menjadi BAB 1 di novelku. Dan sekarang, aku menunggu lagi. Menunggu 'rumah'ku direnovasi. Tentu, aku sedang membuat BAB 2 untuk novelku.
Hem, andai saja kamu mengerti akan sastra dan membaca semua kalimat itu. Ah, tapi, entahlah, itu hanya andai. Jika kamu membacanya, apa yang terjadi? Aku tidak tahu. Aku hanya menunggu dan merangkai kata menjadi kalimat.
Doakan aku agar BAB 2 ini memiliki Happy Ending.






No comments:
Post a Comment