Mungkin saya hanya uap teh yang menempel di gelas anda.
Uap yang berusaha menghangatkan teh untuk anda minum, tetapi anda tidak pernah melihat, bahkan berterimakasih.
Apa yang saya lakukan?
Berangan-angan bahwa kebetulan itu akan selalu nyata?
Seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri, saya hanya diam di tempat, tetapi saya lelah.
Ia pula mungkin terlihat seperti gelas polkadot kesayangan anda yang anda sendiri tidak ingin mengakui bahwa benda itu hal paling favorit.
Pada kesalahan paling buruk, mungkin saya baru menyadari sekarang.
Atau ini memang permainan pikiran tentang waspada?
Entah kenapa, saya yakin ia pula lebih favorit daripada saya.
Bahkan saat anda disuguhkan dua nama, dua wajah, dan dua peran yang berbeda, anda berpikir keras.
Anda menimbang-nimbang.
Dan anda menyebutkan namanya, ia yang ibaratnya gelas kesayangan anda.
Waktu itu, saya pulang dengan isi pusat dada yang hilang, seakan runtuh, bahkan saya masih bisa merasakannya.
Saya terus menyalahkan bayangan anda dalam perjalanan pulang.
Mengapa anda tidak menyebut nama saya yang selalu ada untuk anda?
Mengapa harus dia?
Uap teh memang selalu berdampingan dengan gelasnya, tetapi apa yang membuat satu uap menarik?
Dan ternyata, walaupun bukan tertuju bulat-bulat kepadanya, saya hanya ingin, saya terlihat.
Bukan terlihat karena saya selalu ada di sampingnya.
Saya akan terlihat gila untuk mengakuinya, malah akan terlihat tidak berotak dan berakal, tetapi, Ia memang api saya dari awal.
Bahkan tidak hanya untuk anda,
Ia api saya untuk segala yang hadir di setiap lini waktu milik saya.
Tapi, bagaimana lagi?
Saya pasti kalah.






No comments:
Post a Comment