Deru mesin meramaikan malam
Klakson nyata memecah hening
Sorot lampu mulai menyilaukan mata
Saya tidak tidur, masih segar melihat hutan jawa yang gelap itu
Mengawang, apa saja yang ada di dalamnya?
Sekelebat pikiran itu datang
Untung bukan wanita berkain putih dalam gelap
Hanya wanita yang saya kira sedang dekat dengan anda
Saya menengok kursi belakang
Anda belum pula tertidur
Bahkan di dalam kendaraan balok ini, hanya kita, penumpang yang masih berpikir
Saya bertanya, apa yang anda pikirkan?
Apakah sama dengan saya?
Tentang wanita itu?
Dengan cepat, saya mengalihkan pandangan lagi
Saya kira, saya sudah sembuh
Sembuh dari cabikan rindu terhadap anda
Di pusat malam ini, ternyata saya baru sadar
Anda tidak akan pernah keluar dari pintu otak saya
Meskipun saya sudah merobohkan pintu itu berkali-kali
Anda sudah membangun rumah megah di hati saya
Ironinya, rumah megah itu kosong
Tidak berpenghuni
Dalam perjalanan terakhir ini,
Sebelumnya saya berjanji
Jika saya masih memelihara rasa terhadap anda,
Saya akan mengucap kencang di puncak Bromo
Saya kira, saya sudah melepaskan rasa itu,
Tapi, saat melihat anda, rasa itu kembali
Hukumlah saya karena bualan ego itu
Hanya seorang yang tidak menepati janji
Pengecut yang tenggelam dalam sedih sendiri
Pembunuh rasa yang sadis, karena tidak membiarkan kata-kata mewakilinya
Lucunya, ketika rasa itu masuk kandang, diantarkan senyum manis,
Anda malah bercengkrama dengannya
Berdua
Berdiskusi tentang warna
Basa-basi keadaan
Bahkan anda siap menjadi sosok berani di depannya padahal saya tahu anda sangat cemas
Saya menengok jendela sopir
Ia tidak bergeming apapun tentang lampu sorot jauh yang silau mengalahkan terangnya bulan
Ia sudah terbiasa
Apa yang akan saya perbuat saat melihat keadaan anda dengannya?
Tidak ada
Saya sudah seperti sopir di depan
Keadaan yang menyilaukan itu sudah jadi biasa
Saya cuma bisa menarik persneling dan tancap gas
Sambil berdoa,
Perjalanan terakhir ini akan baik-baik saja.






No comments:
Post a Comment