Satu senyum berbeda
Selalu ada dimanapun berada
Senyum itu sangat menggoda
Entah kenapa, saya candunya tanda
Ternyata senyum itu milik anda
Senyum yang saya suka
Garis lengkung yang spesial untuk saya, tapi biasa untuk mereka
Melihat senyum itu, saya bisa tersenyum kadang hanya tertawa belaka
Senyum itu pula saya benci
.
.
Saya benci bagaimana saya bisa terhipnotis oleh senyum itu. Senyum yang hanya dimiliki oleh anda.
Entah, siapa, sih anda itu? Pejabat? Bukan. Astronot? Bukan. Artis? Bukan juga.
Siapa, sih anda itu? Sebegitu pentingkah untuk saya? Sepenting apakah anda di mata saya, sampai senyum anda pun bisa buat saya lupa diri.
Biasanya, saya senang melihat senyum mengembang di wajah orang-orang, tetapi, saya mulai benci melihat senyum di wajah anda.
Di wajah yang selama ini saya simpan di dalam bayang semu, bahkan di dalam hati pula walau hati tidak pernah bisa membayangkan.
Senyum itu pula yang selalu membuat saya berpikir "tidak apa".
Karena, setiap saya bertanya, anda biasa tidak menjawab, hanya tersenyum. Dan senyum itu membuat saya gila lalu membelotkan suasana berpikir, "ah tak apa jika tidak dijawab", padahal saya butuh jawaban.
Senyum itu seakan meredakan segalanya. Walaupun saya dan anda tidak sedang berinteraksi, senyum itu bisa lewat kapan saja di otak saya. Saya benci bagaimana gambaran itu sering terlintas. Takut menumbuhkan kangen.
Kangen yang harus disingkirkan secara paksa, karena saya rasa kangen itu konyol.
Sudah tiap hari bertemu, rasa kangen masih ada? Konyol.
Pokoknya, itu satu senyum yang berbeda. Senyum yang saya suka, tapi saya benci juga.






No comments:
Post a Comment