Hal ini sangat rumit. Seperti benang merah yang kusut di tengahnya. Mungkin, tidak hanya kusut, benang itu sudah ada yang hangus, basah, entahlah apapun itu.
Malaikat pun terlihat menyerah mengembalikan bentuk benang seperti semula.
Malaikat pun menyerah, mereka sudah terus membujuk saya untuk berusaha tentang benang kusut itu.
Malaikat pun menyerah, sampai mereka menolak pernyataan "Malaikat yang tahu siapa juaranya". Mereka tidak bisa menentukan siapa juaranya. Juara yang memiliki rasa paling istimewa untuk anda. Mereka masih menimbang siapa yang paling hebat, saya atau wanita lainnya?.
Karena katanya, rasa itu adalah rasa yang sangat abstrak hari ini. Semua bisa jadi juara, karena di setiap hati yang berperan, pasti selalu ada peran yang paling hebat. Bukan cuma itu, semua pula bisa jadi pecundang, karena pada dasarnya, rasa yang tak terbalas pasti berkobar lalu merah dan menjadi hitam. Siapa yang tahan?.
Malaikat pun menyerah untuk menyatukan benang anda dengan saya. Sama-sama terlalu kusut.
Malaikat pun menyerah. Mereka melapisi sebongkah daging milik saya dengan besi dan dijaga dengan dua pintu. Agar saya tidak lagi berdarah, katanya.
Mereka tersenyum dengan raut wajah kecewa karena mereka menyerah. Senyum itu membujuk saya untuk selalu bersyukur.
Biarlah benang istimewa itu tidak akan bersatu. Para malaikat tahu benang itu akan bersatu dengan siapa. Lalu mereka medukung untuk selalu berjalan melewati tandusnya tanah, menuju padang rumput.
Dari sana, saya selalu berjalan. Ke arah mana saja, utara, selatan, barat atau timur. Dari sana, saya tahu ada kekuatan hebat selain kebetulan-kebetulan yang terjadi.
Malaikat pun menyerah, tapi mereka tahu bila anda bertanya tentang saya, mereka akan jawab dengan:
Rasakan sukanya seseorang yang telah menyerah.
Bayangkan cintanya seseorang yang telah bungkam.
Dan, Pikirkan rasa yang akhirnya tidak akan pernah hidup lagi.






No comments:
Post a Comment