Cuacanya tidak mendung, tidak juga cerah.
Semesta sedang bingung hari ini hujan atau terang.
3 minggu terakhir setiap pagi jadi hari hujan.
Tak hentinya kerumunan air langit menghantam keras genting. Tak hentinya batang dan daun lirih menggigil mencari selimut.
Dan yang pasti, tak hentinya aku basah kuyup sampai sekolah.
Hari inu Sabtu, harusnya tumpukkan itu sudah rapih. Ternyata masih perlu evaluasi.
"Ga lagi-lagi gue SMA. Banyak banget PR.." gumamku setiap pagi.
2 minggu terakhir jadi pekan paling beramanat dan yang paling menuai literatur. Lihat memo di handphoneku, itu kata-kata dari dewi fortuna? Takjub aku lihat kerja otak yang spontan itu. Walaupun tulisan itu tidak semahakarya Andrea Hirata, Winna Efendi atau Raditya Dika. Tapi itu maha karya otak ku jika sedang gila.
Sabtu Kalut, ia bertanya pada kegiatanku, adakah jam kosong?
Sudah 2 Sabtu ia bertanya seperti itu. Lagi-lagi aku jawab, Tidak.
Lagaku seperti pejabat korupsi yang berkali-kali diundang KPK.
Tapi, memang aku jujur, aku tidak bisa. Hari kemarin harus kumpul, hari ini harus kumpul.
Untung ada obat stress secara LIVE disematkan Tuhan di beberapa sesi hidupku setiap hari.
Tapi sebenarnya inti dari ini,
Sabtu ini kalut, tugas dimana-mana. Belum selesai satu tugas tambah lagi dua tugas. Mengapa tugasku tidak didasari dengan lagu anak ayam?
"Tekotek kotek kotek anak ayam turun 5 mati 1 tinggal 4"






No comments:
Post a Comment