Selamat malam, terakhir, kamu tidak membalas pesanku. Sudah terlelap atau memang sengaja? Yah, aku pikir saja kamu sudah terlelap. Akhir-akhir ini, aku susah tidur. Sama seperti kamu dulu. Hanya saja yang berbeda, aku rela untuk menemani sampai pagi walaupun pada akhirnya aku terlelap juga. Tapi, kamu? Tidak ada, tidak pernah ada. Lagipula, kamu bilang, kamu terlalu sibuk dan akhirnya terlalu lelah. Aku coba pahami, aku mengerti, tetapi rasanya ada yang hilang. Terbiasa dengan ucapan Goodnight itu luntur. Jangankan tentang goodnight, mengingat untuk membalas pesanku saja sudah susah. Aku tau, kamu bukan dan kamu tidak pernah menjadi milikku, tapi sikapmu membuatku merasa memiliki. Entahlah, semenjak kita pisah, rasanya kita tak lagi sama. Kau tak lagi peduli denganku.
Kamu, kamu pernah ada di satu bab di dalam novel hayalanku. Dan, setiap malam aku membacanya. Setiap percakapan yang nyaman, aku mengingatnya, hafal dengan begitu saja. Setiap waktu, aku ingat. Aku ingat setiap detilnya. Dari waktu kamu bangun sampai kamu tidur. Tapi, apa kamu ingat tentangku? Aku rasa, tidak. Rasanya, jika doaku hisa langsung tembus sampai kepada-Nya, aku mohon waktu lalu di tanggal 7 maret, sore itu, aku mohon tidak didekatkan denganmu. Aku mohon sadarkan saat-saat lalu. Aku mohon bisa mengulang waktu. Tapi, apa daya? Aku tidak bisa.
Malam ini terlalu larut. Larut dalam kata-kata yang tak pernah tersampaikan. It's nothing. Karena, mengumpulkan keberanian sebenarnya bukan mustahil, hanya saja aku ragu. Aku memainkan hipotesaku dan aku takut hipotesa itu hasilnya fatal dengan lagi. Aku takut. Aku masih takut,masih belum mau rela untuk melepasmu. Aku masih takut dihantui rasa-rasa yang sama seperti orang kemarin sebelum kamu. Aku masih ingin bernyaman padamu, tapi, aku anggap itu tidak mungkin lagi. Dan, saat aku mengingatmu, hanya barisan-barisan doaku yang siap memelukmu dengan tangan tuhan. Semoga, semoga saja kamu selalu baik. Selalu bersenang, tidak seperti aku, di sini, mencoba untuk kembali mencicipi kenyataan. Aku pulang, aku tinggalkan 'rumah' kita yang lalu, yang hampir roboh digerogoti perasaan. Kamu pulang dahulu dan aku masih merawat rumah itu. Tapi, sekarang? Aku tidak sanggup. Aku pulang pada malam ini.
00:07
Malam ini, malam kesekian kalinya kamu tidak membalas pesan.
Kita yang tidak pernah lagi kembali.






No comments:
Post a Comment