Saturday, 24 January 2015

Ini cuma lampiran motivasi biar kami tidak melalui situasi 'Jari Kebas'.

Post8 itu hanya sebuah kelas.
Ada empat tembok pembatas
Satu pintu menghadap teras
Akhir ini, jadi kelas panas
Barang primer, ya kipas
Maklum, pendingin sudah tua saatnya mereka mati pulas
Semoga, sih, tidak mirip lapas

Kecilnya kelas diisi 37 anak,masing2 punya mimpi yang berkelas

Mereka, sih, lumayan bebas
Kata-katanya culas
Tapi hatinya tidak keras
Karena sebagian adalah hati yang tak terbalas
Tapi, tenang, mereka tetap pekerja keras
Katanya, biar kelak bisa cari beras
Sambil ngeteh di kursi teras
Yah, biar gampang, mudah dan beban lepas alias sukses keras.

Post8 itu hampir selalu ada solidaritas
Perbedaan malah biar jadi pluralitas
Karena katanya, dominasi bikin ganas
Ya pokoknya kebersamaan prioritas.
Tapi tetap sih, kelompok pisah, genre terbatas. 

Hebatnya lagi, post8 itu seperti kertas
Biar tidak kosong, bisa diisi dengan kreativitas.
Saking hebatnya, Post8 itu layaknya panggung pentas
Drama sana sini tapi tetap menghadap realitas.
Kami sama-sama tau ada omong kosong kelas atas, tapi apa boleh buat, itu cuma bumbu penyedap untuk selaras.

Yang terakhir, keadaan kelas makin memanas.
Apalagi sedang terseok menahan tugas.
Semoga, sih kami masih waras
Masih bisa menuntut ilmu sampai terkupas

Ah, Yasudahlah, doakan saja calon pemimpin sini yang masih jadi tunas Semoga kami berkualitas
Pantas jadi yang teratas
Untuk bangsa dan semua yang mendukung dengan semangat panas.

Terima kasih,
Salam Cinta, insha-Allah tidak akan kandas.

Hari ini, saya menemukan kegetiran itu. Memang belum terlalu puncak, tapi di sini saya akan meluapkan getir saya dalam menjalani skenario hidup.

Getir itu saya kemas dengan kemasan Tuan dan Tanah. Maka, saya beri penjelasan tentang Tuan dan Tanah dari pikiran saya.

Tuan yang tidak bertanah adalah simbol dari kebebasan tetapi diimbangi dengan kehilangan dan kekosongan karena ia tidak memiliki tanah.

Tuan yang tidak bertanah ini selalu gelisah saat mencari tanah yang dirasa 'sreg' dengannya.
Adakah tanah subur yang mampu memekarkan taman untuk ia telusuri? Atau memang, selama pencarian tanah ini, ia terlanjur percaya bahwa tidak ada lagi tanah yang ia harapkan? Atau malah, tanah sempurna itu sudah ditancapkan dengan papan nama orang lain?
Gelisah itu berlarut di dalam dirinya. Bukan hanya hati, pikiran pula. Berlarut-larut, sampai ia bosan membuka layar kapalnya lebar. Sampai ia muak dengan semua celotehan awaknya tentang betapa sempurnanya tanah-tanah yang ia pernah kunjungi. Sungguh, sampai ia tertelan ke dalam rasa tidak nyamannya sendiri.

Bahkan ia belum pernah sadar, tanah itu telah ia lewati berkali-kali. Telah berganti papan nama berkali-kali.
Bahkan ia tidak pernah tahu, perjalanannya hanya sekedar putaran tanpa tembok pembatas.
Si Tuan tidak perlu lagi melepas layarnya, seharusnya, ia sudah beristirahat, menabur bijih bunga agar ia bisa tertidur nyaman di tengah taman itu.
Tetapi, tampaknya Tuan itu tidak akan pernah sadar terhadap tanahnya, sampai kapalnya dirusak semesta hanya untuk menyadarkannya. 

Sementara, Tanah yang tidak bertuan ibaratnya kekosongan yang seolah-olah gersang dengan terpaksa. Kekosongan yang tidak bisa berpindah tempat, tidak bisa mencari tuannya dan hanya bisa menunggu dihampiri. Walaupun tanah itu akan tumbuh subur, menumbuhkan bunga indah, merah merekah, namun, sampai tanah itu berdarah, ia tak akan berguna sampai ada Si Tuan yang 'terdampar' di tanah itu.
Itu pun adalah tanah subur. Jika tanah tidak bertuan yang lain adalah tanah gersang, retak, dan kering, adakah yang akan menghampirinya?
Walaupun ada yang terdampar, tanah itu seperti tidak layak untuk dihampiri, malah Si Tuan lebih memilih untuk hanyut kembali daripada harus mengutuk tanah itu sampai ia mati. Padahal, Si Tuan itu tidakkah ia mengetahui mengapa tanah ini kering hingga ia tak layak disebut tanah?
Padahal, tanah itu hanya perlu sentuhan kecil, hanya perlu dirawat tanpa ada kerusakkan lagi.
Tidakkah tuan tahu? Tanah ini sudah dirusak oleh sekian tangan. Ia perlu tangan yang lebih lembut untuk menjaganya.

Getir itu mulai menjadi dilema. Lelah menunggu, sampai ia putuskan bunuh diri dibawa ombak besar.

Mungkin tanah kering itu sadar, tuannya tidak akan pernah kembali lagi dan tidak akan ada tuan lainnya. Bahkan untuk membuat pusara bagi tuannya pun, ia tidak pernah layak.
Bahkan keyakinan terhadap semesta mungkin sudah buyar.
Harapan untuk menumbuhkan kembang di lahannya telah pupus.
Dedaunan kering telah tersapu angin.
Batang yang ringkih telah jadi simbol ia tidak akan pernah punya tuan lagi.
Tanah yang kering sudab menjadi tanda bahwa ia adalah retakkan yang tidak bisa membaik dengan sendirinya.

Jadi, saya kira, jawaban pertanyaan di atas akan sangat mudah.

Siapakah anda? Apakah Tuan tidak bertanah, atau Tanah tidak bertuan?
Lalu, siapakah saya?

Anda tahu jawaban itu, karena andalah yang membuat pertanyaan ini lalu membisikkan di atas lahan saya yang sudah ditancap nama Tuannya, yaitu nama anda.

Monday, 29 December 2014

Hello, hari ini libur.
2014 is over, bud!! Sangat cepat tahun ini berlalu. Sayangnya, 2014 gue belum melakukan apa-apa dan tidak ada kesan apa-apa..
Dan selamat datang 2015, gue siap untuk melakukan hal bermanfaat di tahun 15.
Pada 2015, yang sedihnya adalah usia gue masih 16 tahun, dan teman-teman sudah 17 tahun sudah memegang sim dan ktp, men.
Kabar baiknya, i'm still young.

Nah, jadi hari ini gue mau membahas tentang cita-cita.
Cita-cita adalah impian yang harus diraih dan dikejar dengan semangat penuh, niat penuh juga usaha #saik.
Maksud gue, kemana sih selama ini tujuan hidup lo? Cita-cita lo itu apa? Anehnya, kalo bertanya ini pada adik-adik kecil kita yang masih SD, cita-cita hanyalah sebatas pilot, guru, dokter, montir (enggak, sih). Ya, karena mereka cuma tau itulah pekerjaan hebat.

Semakin adik-adik itu beranjak usia, mereka akan tau profesi-profesi lain yang hebat. Misalnya saja mereka sudah masuk SMP, jika ditanya, mereka akan jawab, DPR, Arsitek, Dj, Dj, Dj. Oke cukup dengan Dj.
Dj adalah profesi paling mahsyur di kalangan remaja SMP jaman sekarang. Sampai pada bayangan masa depan nanti, di suatu jalan publik, ada seseorang terjatuh karena penyakit jantung, dan orang-orang yang berkerumun mayoritas Dj dan tidak tau harus melakukan apa-apa. #ironi.
Apalagi mungkin, Dj itu kan di.. Realistis aja, Dj itu kerjanya mayoritas di club. Banyaknya Dj, akan menambah banyaknya club yang berdiri. Lalu lahan habis, dan para Dj menganggur menjadi pengangguran deflationer, buka usaha sendiri dengan Dj keliling.
Nggak, sih, itu teori saya aja.

Oke, bayangkan lagi adik-adik itu sudah masuk SMA, lebih luas lagi wawasan yang dicapai. Jika ditanya lagi, mereka sudah bisa menjawab, TNI, Dosen, HI, Hukum, Sutradara, sutradara, pokoknya sutradara.
Iya, sutradara. Jaman 2014, jurusan kuliah DKV makin digandrungi. Gue, sebagai peminat jurusan itu merasa ragu. Jurusan ini banyak banget, men yang mau. Nanti, misalnya gue lulus, anak DKVnya banyak, perusahaannya sedikit, yah, DKV sih bisa usahaan sendiri, sih. Tapi, ya gitulah..
Kalo ditanya kenapa mau masuk DKV, karena pengen bisa desain aja keren. DKVitutidaksekedardesain.

Jadi, apa intinya gue menulis ini ribet-ribet? Karena menurut gue cita-cita anak sekarang adalah cita-cita jamanan. Sesuai musim.

Dan gue? Kalo lo tanya cita-cita gue apa, lo gak bisa dapet jawaban sekarang.
Gue masih belum tau profesi apa yang harus gue geluti. Yang pasti, dengan semangat nasionalisme, tanpa etnosentrisme dan primordialisme, cita-cita gue semenjak SMP adalah mengambil peran dalam memajukan negri tercinta, Tanah Air Ibu Pertiwi, Indonesia Raya. #saik. Dari bidang manapun.

Cita-cita gue itu sebenernya ironi. SD, gue pengen jadi Dj, itu tahun 2008. Tahun itu, gue selalu dapet perkataan "ngapain jadi Dj, gak keren lo," dari teman-teman gue. Bokap gue pun bilang, "Jadi Dj emang tahan tuh di club,". Dan akhirnya, gue melipat kertas cita-cita itu lalu gue buang.
Dan sekarang, Dj is a famous job ever. Sial. Tapi gue emang ga tertarik lagi, sih.. Maksiat, astagfirullah. Lagian, seni gue tidak jago dalam bidang musik.

SMP, tahun 2012, gue mau jadi sutradara. Alasannya klise, gue mau buat film, tentang Indonesia. Klise pula, gue mau orang-orang sehabis nonton film gue akan bilang " Gila, keren banget, nih, film". Gue mau apresiasi orang-orang.
2013, gue berbelok dan mau jadi animator, di PIXAR, dimana, kek. Gue mau memperbaiki animasi anak Indonesia, kalo bisa.
Dan sebenernya, dua cita-cita itu masih gue pegang, dengan setengah hati.

Masuk SMA, jiwa nasionalisme gue semakin berkobar. Dengan masuknya gue ke jurusan IPS, gue mau ambil peran dalam pemerintahan. Setidaknya, kursi mentri. Hahaha. Gue mau Indonesia tidak lagi sia-sia.
Ini emang lebay, tapi asal tau, aja, Indonesia ini negara yang semuanya ada. Apa pun itu. SDM, SDA, semuanya. 1 yang kita ga punya, kerja sama yang kompak, dan nasionalisme yang konsisten.

Thx.
Sampe sekarang, gue masih bingung harus ambil cita-cita apa.

Apapun cita-cita yang lo gandrungi,
"a smooth sea, never made a skillful sailor"

Thursday, 18 December 2014

Hal ini sangat rumit. Seperti benang merah yang kusut di tengahnya. Mungkin, tidak hanya kusut, benang itu sudah ada yang hangus, basah, entahlah apapun itu.

Malaikat pun terlihat menyerah mengembalikan bentuk benang seperti semula.

Malaikat pun menyerah, mereka sudah terus membujuk saya untuk berusaha tentang benang kusut itu.

Malaikat pun menyerah, sampai mereka menolak pernyataan "Malaikat yang tahu siapa juaranya". Mereka tidak bisa menentukan siapa juaranya. Juara yang memiliki rasa paling istimewa untuk anda. Mereka masih menimbang siapa yang paling hebat, saya atau wanita lainnya?.
Karena katanya, rasa itu adalah rasa yang sangat abstrak hari ini. Semua bisa jadi juara, karena di setiap hati yang berperan, pasti selalu ada peran yang paling hebat. Bukan cuma itu, semua pula bisa jadi pecundang, karena pada dasarnya, rasa yang tak terbalas pasti berkobar lalu merah dan menjadi hitam. Siapa yang tahan?.

Malaikat pun menyerah untuk menyatukan benang anda dengan saya. Sama-sama terlalu kusut.

Malaikat pun menyerah. Mereka melapisi sebongkah daging milik saya dengan besi dan dijaga dengan dua pintu. Agar saya tidak lagi berdarah, katanya.

Mereka tersenyum dengan raut wajah kecewa karena mereka menyerah. Senyum itu membujuk saya untuk selalu bersyukur.

Biarlah benang istimewa itu tidak akan bersatu. Para malaikat tahu benang itu akan bersatu dengan siapa. Lalu mereka medukung untuk selalu berjalan melewati tandusnya tanah, menuju padang rumput.

Dari sana, saya selalu berjalan. Ke arah mana saja, utara, selatan, barat atau timur. Dari sana, saya tahu ada kekuatan hebat selain kebetulan-kebetulan yang terjadi.

Malaikat pun menyerah, tapi mereka tahu bila anda bertanya tentang saya, mereka akan jawab dengan:

Rasakan sukanya seseorang yang telah menyerah.
Bayangkan cintanya seseorang yang telah bungkam.
Dan, Pikirkan rasa yang akhirnya tidak akan pernah hidup lagi.

Thursday, 13 November 2014

Sudah 2 musim hujan.
Sudah ribuan tetes air yang menbasahi ribuan hektar tanah pula.
Sudah banyak yang sengaja mengembangkan payungnya di 2 musim hujan ini.
Sudah ada jaket yang empunya berganti setiap dingin menusuk.

Sudah 2 musim hujan.
Sudah 2 musim hujan saya bersama, satu ruangan, dijarak hanya oleh ubin dengan anda.
Artinya, sudah 1 tahun dan 1 bulan.
Sudah 2 musim hujan pula saya mengaduk rasa ini. Meracik, lalu, sebelum basi, saya akan selalu menghangatkannya kembali. Tidak tahu kapan rasa ini berlabel expired.

Tidak tahu mengapa saya beri kata "Perayaan". Hanya karena rasanya memang harus dirayakan.
Merayakan semua harum Petrichor yang saya hirup sembari membuka jendela percakapan saya dengan anda.
Merayakan senandung yang diciptakan oleh benturan tetesan dengan genting sambil saya menyembunyikan pipi merah saat bertukar cerita dengan anda.
Merayakan daun yang menggigil lirih kebasahan seraya saya menyembunyikan wajah di bawah bantal karena saya terlalu angkuh untuk mengakui adanya peran 'mawar' yang lain.
Merayakan petir yang menyulut seolah saya terbawa arus listrik yang menusuk karena saya terlalu egois menginginkan janji yang muluk-muluk.

Sudah 2 musim hujan saya merayakan rasa ini.
Saya kira kebetulan yang datang bertubi-tubi adalah jawaban positif dari semesta, tetapi,
Harapan malah jadi asa yang hampir putus.

Mari lihat sudah berapa lama hujan di luar menyelimuti saya.
Mari lihat dimana dan bagaimana saya akan terbangun.
Suara petir atau bunga tidur yang punya rasa kuat?
Karena, setahu saya, bunga tidur yang saya mekarkan kebanyakan berisi tentang anda.

Semesta punya rahasia tentang semua pintu yang masih ditutup bahkan dirantai.
Mengeluh dan marahlah bila itu perlu.
Saya sudah melakukan itu semua. Mengeluh, marah, lalu menuntut seperti orang sakit hati dan sakit jiwa.
Karena dahulu, saya kira saya percaya pada hal seperti itu yang sifatnya sekokoh benteng Belanda.
Sekarang, dewasa mulai tumbuh, pikiran akan selalu terbuka walaupun saya masih selalu bertanya-tanya tentang rangkaian cerita yang belum selesai ini.

Merayakan musim hujan rasanya seperti meniup lilin di atas perahu karet.
Berdoa sebelum meniup lilin bukan hal yang tabu.
Berdoalah, karena katanya, waktu hujan adalah waktu di saat doa langsung melesat menuju lapisan ke-7.
Bertanyalah kepada Yang Maha Esa, lalu harapkanlah jawaban yang paling benar, bukan hanya baik.

Sudah 2 musim hujan,
Saya berusaha membuka payung.
Sudah 2 musim hujan pula saya berusaha menunggu anda untuk bersama di bawah payung ini.

Perayaan musim hujan akan selalu ada sampai saya menutup payung, kelelahan mencari dan membujuk anda.

Dan jangan salahkan saya tentang semua hal gila ini.

Thursday, 16 October 2014

Cinta itu suatu rasa
Harusnya buat sedemikian kokoh seperti tanduk rusa.

Cinta itu abstrak, tidak ada kontrak dan jangan sampai buat tersedak.

Cinta itu kadang tidak bisa ditebak, menang hebat atau malah kalah telak.

Bahkan harusnya cinta adalah penyemangat rasa, bukan jadi pendorong siksa.

Cinta itu apa?
Cinta itu relatif, hal tentang optimis dan pesimis. Buat teriris atau malah buat klimis. Cinta bukan sekedar fantasi, cinta itu hal yang mengisi. Melengkapi sampai yang retak jadi semu, malah sembuh.

Hebatnya lagi, cinta itu harusnya berakhir di pelaminan dengan senyuman, bukan di pemakaman dengan tangisan. Bukan pada kata 'Putus' di layar chat hati yang tak terurus.

Tapi, cinta tidak seharusnya selalu berjuang. Jika sudah busuk biarlah taruh di gubuk. Biar nanti hilang dalam sekali duduk tanpa rasa ingin meratap menunduk.

Pokoknya,
Cinta buat asa putus akal, bukan akal yang putus asa.

Sunday, 21 September 2014

"Jangan-jangan kalian itu memang sudah digariskan!" Tegas wanita di depanku.
"Iya, digariskan! Jangan-jangan bukan hanya kebetulan!" sambungnya.
Aku menengok pria sebelahku, ia tertunduk tetapi aku bisa melihatnya sedang memikirkan sesuatu.
"Ayolah, percaya bahwa kalian akan ada hubungann" Wanita itu menekankan lagi.
Sekarang, pria di sebelahku mulai mengangkat wajahnya lalu menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tidak tahu apa.

"Sudahlah, aku pergi saja." Elakku.
"Jangan" Tangan besar pria itu menarik lenganku yang hampir beranjak.
"Ingat tidak kalian selalu kebetulan 'bersama-sama'? Ingat game terakhir? Atau ingatkah hal-hal kecil yang selalu menampakkan kebetulan bahwa kalian kemungkinan bersama?" Matanya mulai membelalak dan aku melihat harapan juga jiwa sok tahu yang menggelegar di bola matanya.
"Game? Em, ya, aku ingat. Tapi pasti dia tidak ingat" Nadaku rendah setengah malas.
"Aku ingat!" Tegas pria itu.
"Oh, bagus." Aku jawab sekenanya.
"Hey.." kini mata pria itu terlihat indah. Pupilnya membesar dan aku bisa melihat bayanganku di sana.
"Ada apa? Kamu tidak akan mempercayai omongan ia, kan?"
"Hey, sebenarnya aku tahu perasaanmu sejak dulu" Tetiba suasana menjadi serius.
"Rasa apa?"
"Aku tahu kalau kamu pasti tahu apa yang aku maksud"
"Oke, aku mengaku. Aku depresi dengan segala kebetulan ini. Rasanya ada yang memberiku kesempatan tetapi di samping itu.. Entahlah" Kalimat itu keluar tanpa kontrol.
"Tapi, tahukah? Aku juga sering memikirkan kebetulan ini." Ia menundukkan wajahnya lalu menegakkan lagi. Ternyata rambutnya sudah dicukur ala trend hari ini. Pria ini, mengapa selalu jadi kesukaanku? Haha.

"Memikirkan bahwa itu tidak mungkin, kan?"

"Kebalikkannya, bahwa itu mungkin. Apa kita bisa bersama?" Tangannya melepaskan lenganku.

Aku terdiam tidak tahu harus jawab apa sedangkan yang ada di dalam diri ini sedang riuh. Mendengar itu rasanya organ di dalam ingan meloncat saling berpelukkan.

"Aku menunggu jawaban" Jelasnya.
"Jawablah jangan ragu" si Wanita mulai berbicara lagi.

"Iya, tentu kita bisa ber..."
-

"Astagfirullah!" Saya spontan membuka mata.
"Tap-tap-tap-tap-tap" Handphone bercase putih sudah bergetar sebagai pengingat untuk bangun pukul 5.

"Sial! Selalu saja cuma mimpi" saya menggerutu.
Iya, sering sekali hanya bunga indah hasil terlelap. Yah, sial.

 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff