Sunday, 10 April 2016

Ingat, aku hanya bercanda menulis ini.

-Aku lelah menulis-

Aku lelah menulis surat cinta untukmu,
Karena tumpukkan surat ini sudah membentuk buku setebal novel Harry Potter.

Aku lelah menulis surat menangis,
Karena aku kehabisan kata untuk mengeluhkan apa yang harus kutangisi.

Aku lelah menulis surat bahagia,
Karena bahagia mudah sekali aku dapatkan hanya karena melihat ujung rambutmu.

Aku lelah menulis surat peringatan,
Karena peringatanku untukmu tidak pernah dibaca, iya, karena memang tidak sampai.

Aku lelah menulis surat perintah,
Karena apa yang aku perintahkan tidaklah wajar, seperti, jangan mengajakku berbicara bahkan perintah menjauhiku.

Aku lelah menulis humor,
Karena humorku akhir-akhir ini sedang gagu dan kau pun tidak lagi membacanya

Aku lelah menulis teka-teki,
Karena teka-teki itu tentang rasaku yang bahkam kamu tidak bisa membaca tulisanku apalagi mengartikannya.

Aku lelah menulis berita,
Karena terlalu banyak berita tentangmu yang harus aku tulis agar tidak lupa. Tentang senyum pertamamu denganku, tentang wanita di jok belakangmu, tentang perilakumu, tentang humormu.

Aku lelah menulis,
Termasuk menulis kata 'so sweet' di akun orang yang memajang foto denganmu ataupun orang lain dengan relationship goal masing-masing.

Aku lelah menulis ini semua,
Aku ingin berhenti menulis tapi tidak juga ingin melupakanmu.

Aku ingin istirahat, sebentar saja sampai jemariku tidak kaku lagi dan bibir tidak kelu lagi.

Dan aku ingin menulis surat lain,
Seperti surat cinta yang asli.

Yang berisi tentang kita, bukan hanya kamu, bukan hanya aku.

Aku ingin menulis perangaimu sampai satu eksemplar.

Aku ingin menulis caption tentang foto yang bisa aku pasang.

Satu lagi,
Aku ingin berhenti,
Berhenti menulis bahwa surat seperti ini adalah bercanda.

Jadi, gue adalah anak kelas 3 yang lagi Ujian Nasional.
Iya gue tau ini udah tanggal 10 April, dan UN udah lewat semenjak 4 hari lalu. Taoi itu UN pbt, yang pake kertas.

Gue anak Cbt, Computer based test dengan kata lain, gue ujian 6 hari. Senin, selasa, rabu, kamis, senin, selasa. Iya, longkap 3 hari.

CBT punya positif dan negatif. Positifnya, gue gak perlu nyari pensil 2B, rautan, dan teman-temannya.
Gue pun gak perlu ngebuletin jawaban yang memakan waktu 5 detik.
Gak perlu salah ngisi nomor.
Gak perlu merhatiin garis keluar.

Dan...
Negatifnya adalah
Gue Ujian lebih lama
Server bisa aja ada kendala
Dan ada pembagian sesi.

Nah, Kita ini dibagi jadi 3 sesi.

Sesi 1: 7.30 - 9.30
Sesi 2: 10.30 - 12.30
Sesi 3: 14.00 - 16.00

Yang paling mager itu kalo dapet sesi 3, siang banget dan rasanya udah keburu ngantuk.
Tapi yang paling enak, juga sesi 3, bisa tidur siang bentar. Wk

Nah.. gue gak keberatan dengan cbt, malah gue mendukung, karena minim biaya dan minim human error, maybe.

Terus, gue juga pengen cerita jadi anak IPS 3 tahun.

You kno wut? Jadi anak IPS tidak semudah meme buatan orang..
Yang katanya, sering ada jam kosong
Katanya materinya gampang
Katanya jawab soal mah tinggal tutup mata
Katanya, tasnya pada kosong melompong.

NO.

Rasain dulu jadi anak IPS. Ya mungkin ini di sekolah gue. Tapi, serius, anak IPS gak boleh digituin..

Pada mikir, 'yaelah sosiologi mah kaga usah belajar'.
Rasain dulu ngerjain soalnya. 5 pilihan, dan semuanya bener. Lu harus jawab mana yg paling bener.

Geografi, lu gak bisa nerka2, mana lempeng samudra mana lempeng benua. Intinya belajar.

Dan satu lagi, ekonomi. Fakuy otak gue emang udah bebel.

Gue belajar IPS, lebih seneng belajar Geografi, Sosiologi, dan sejarah. Entah kenapa ekonomi tiada di hati gue. Secuil pun, yah setidaknya teori kebijakan moneter dan kebijak fiskal sih.

Karena..

-gue akan mulai mendramatisir-

Belajar geografi,
Secara gak langsung, gue itu mempelajari bagaimana alam bekerja. Dan itu sangat amazin. Bagaimana Allah menciptakan alam, dari darat, air sampai udara dapat bekerja dengan seimbang.
Membuat gue pengen tahu tentang pelajaran geografi.

Belajar sosiologi
Ini juga sangat keren. Gue mempelajari bagaimana masyarakat dan kelakuannya. Gue bisa bergaul di dalam kehidupan, lalu muncullah kelompok sosial, ujungnya bisa integrasi kuat atau disintegrasi. Dan sekarang, semua teori sosiologi tuh masuk akal, karena memang manusia itu ya begitu..

Dan Sejarah,
Sejarah yang bikin gue suka sama IPS. Karena mempelajari masa lalu dapat membangun masa depan. Keren rasanya pas lo tahu perkembangan bumi dari dulu sampe sekarang, perkembangan manusia dari monyet sampe jadi ganteng.
Konflik besar yang dulu ada, penemuan-penemuan.

Kenapa gue gak suka ekonomi?

Gue rasa, Ekonomi menyebabkan kekacauan di 3 ilmu yang gue sukai.

Geografi.
Alam semakin habis karena kepentingan ekonomi

Sejarah,
Ya.. emang gak ada hubungannya, sih.

Sosiologi
Disintegrasi di realita biasanya karena apa?
Karena uang.

Ekonomi yang ada di benak gue itu selalu berbicara uang, uang yang membudaki manusia, uang yang bisa menghabiskan alam, uang yang bisa mengganti sejarah.

Entah, gue gak bisa meninggalkan interpretasi tentang ekonomi.

Dan IPS menyadarkan gue,

Bahwa Allah itu memang MahaEsa,
Alam berjalan dengan teratur,

Bahwa manusia itu hebat.
Yang beda cuma niat dan usaha,

Bahwa masyarakat dapat bekerja sama,
Jika ada kepentingan.

Bahwa ekonomi adalah hal yang paling penting di dunia.

Dan itulah testimoni CBT beserta pelajaran IPS gue.
Doakan gue lulus, ya.

Friday, 1 April 2016

Di H-3 Ujian ini, sekilas aku melihat roda kehidupan yang berbalik.

Sekilas aku melihat aspal yang kita kotori.

Aspal yang kita kotori dengan tawa atau caci maki,
Aspal yang kita injak dengan telapak kaki atau sol sepatu
Dengan roda dua atau roda empat

Melihat bangunan-bangunan ini membuat aku terenyuh. Rasanya ringkih.

Kenapa otak seperti tidak mau melepaskan memorinya?

Aku ditanya, "Sekolahmu sudah mau habis, bagaimana itu?"

Apanya yang bagaimana? Apa yang harus aku jawab di saat aku bersedih ingin berpisah tetapi di sisi lain, aku sangat bosan di dalam tempayan.

Akhirnya, aku menjawab, "Yasudah, bagaimana lagi?"

"Bagaimana dengan orang-orangmu dan yang lainnya tentang sekolah?" celetuk si Penanya.

"Apa? Orang-orangku?" aku mengernyit dan ia mengangguk.

Tidakkah ku salah dengar? Ada yang menanyaiku tentang sekumpulan orang.
Hahahahaha, aku sangat ingin tertawa keras.

Tidakkah ingat? Sekumpulan itu tertinggal di aspal-aspal kenangan.
Tidakkah ingat? Sekumpulanku hanya hidup di dalam galeri.
Tidakkah ingat? Tawanya hanya hidup di dalam voice-note.

"Yasudah, mereka punya hidup sendiri." Aku menjawab.

"Apa kau tidak sadar mereka semua marah denganmu?" ia angkat bicara lagi.

"Mereka memang seharusnya marah denganku." Tatapku kepada matanya yang hitam di dalam genangan air coklat pada aspal yang rusak.

"Aku menyeka air matamu bukan karena peduli.
Menyelipkan anak rambutmu ke belakang telinga bukan karena kamu terlihat cantik.

Perangaimu sama seperti orang-orang yang kamu benci,
Seperti sudah bercermin pada segala umpatanmu,
Air mata ini hanya sandiwara panggung!

Kamu tidak pernah tulus mengeluarkannya.
Kamu terlalu sering bersembunyi di balik sajak, padahal kamu melempari manusia-manusia dengan sajak pesakitan yang kamu buat.

Manusia-manusia itu kesakitan melihatmu,
Ingin menancapkan pisau, setidaknya jarum di atas kulitmu yang gosong.

Musik tidak pernah kamu jadikan obat tiga kali seharimu.

Ini salahmu, bodoh!

Bahkan cermin tidak ingin merefleksikanmu.
Berapa banyak topeng yang kau punya?
Berapa banyak boneka kayu yang kau pahat?
Berapa banyak lembar yang kau umpat?

Otakmu masih sedap karena tidak pernah dipakai.
Matamu masih jernih karena tidak dapat melihat pedih,
Telingamu tuli, tidak dapat mendengar tangisan

Kamu selalu marah dengan alasan ini itu padahal kaulah penyebabnya.

Dasar kau,
Pemarah! Pecundang!

Kau tidak pernah tahu orang-orang berbisik tentangmu.
Kau tidak pernah bisa memberhentikan mulutmu.

Untuk apa menangis karena ditinggalkan kesayanganmu?

Kamu pantas ditinggalkan."

Teriakku di depan cermin,
kepada Aku yang lain,
Yang terjebak di dalamnya.

Wednesday, 30 March 2016

Ruangan ini gelap. Hanya ada sepintas cahaya yang masuk lewat celah retak.
Pengap dan panas sudah cocok dengan suasananya.

Ada kursi, buku-buku dan seutas tali yang agak panjang.

Rasanya, otakku telah habis sebelah karena panas mengejar materi.

H-4 Ujian Nasional, apa yang kamu harapkan dari otak yang rusak?

Kamar ini gelap, cocok untuk melakukannya dan aku akan tenang.

Aku mengambil seikat tali itu, aku kumpulkan buku-buku yang telah aku makan habis, biar mereka jadi saksinya. Kusimpulkan tali itu dan aku melihat sesuatu yang sangat menyejukkan yang membawaku ingin melakukannya.

Aku menyimpulnya, naik lalu turun, lalu kukencangkan.

Aku tidak tahan. Aku lelah. Untuk apa berusaha jika tidak ada hasil.

Aku menaikki kursi, meraih lemari, memegang erat lemari agar aku tidak terjatuh dan langsung menggelepar. Ku angkat tali tersebut. Aku memikirkan semuanya.

Tenang saja, aku hanya pergi sebentar.

Mengapa harus terjaga jika terlelap itu adalah kenikmatan?

"BRAK" kursi terjatuh, aku meringis, membayangkan semuanya. Keringat membanjiriku, aku tidak bisa bernafas, tidak ada oksigen di ruang pengap ini.

Selamat tinggal, Ujian Nasional. Selamat tinggal buku-buku, rasanya aku senang walau masih meringis.

Inilah akhirnya.

×××

"Ctek" tiba-tiba lampu ruanganku hidup. Ternyata PLN sudah menyalakan aliran listirknya. Angin sepoi berhembus lewat air conditioner.

Aku sadar. Aku tergelepak di lantai dengan sisi buku yang aku simpul tali mencuat sedikit keluar lemari. Bundelan buku yang aku ikat itu segera jatuh

"Brak", habis sudah menimpaku.

Aku hanya ingin tidur, kawan.

Aku mengan...tuk...
#Chill

Monday, 14 March 2016

When We Were Young - Adele

Ingat, saya punya satu folder tentang perasaan hati yang selalu dituangkan tiap malam.

Dari x sampai y, sampai saya pulang lagi pada x. Saya punya semua, dalam 3 tahun, di setiap harinya. Menulis itu baik, membuat seseorang tidak lupa dengan hal penting.
Dan berarti, seorang x adalah penting di hal ini.

Sudah terkumpul 148 memori. Berhenti pada angka 148, di tanggal 1 Januari 2016.

Saya sudah pernah mengagumi orang seperti x selama dua tahun, dan dua tahun bukan waktu yang cukup untuk kali ini. Beralih pada beberapa orang, dan akan kembali pada x. Entah kenapa.

Patah hati kali ini menyenangkan. Karena sejujurnya, bisa melihat x menemukan seseorang yang benar-benar nyata adalah kebahagiaan. Bagaimana bisa menyalahkan wanita itu saat ia membuat tersenyum x?
Seharusnya berterima kasih karena dari senyum itu, muncul juga senyum lain.

Melihat pemandangan itu benar-benar bahagia. Toples yang kosong rasanya diberi glitter warna-warni.

Sudah cukup untuk mengagumi dari dekat tapi dengan suara pelan. Saya sudah melepaskan segalanya, karena dalam waktu singkat, saya akan mulai lagi untuk sendiri.

Patah hati yang menyenangkan. Dari pertama melihatnya di samping kanan hari pertama kelas, di atas Bromo, di dalam foto-foto, sudah cukup.

Dari pertama, tugas kewirausahaan, berlanjut pada ulang tahun.

Bintang tidak perlu digapai, menikmati secara visual pun sudah indah.

Haha, bintang 5 akan selalu bersinar dan semoga saja tetap sama.

"Everybody loves the things you do,
From the way you talk to the way you move,
Everybody here is watching you,
Because you feel like home.
You're like a dream come true"

.
.
.

-Bintang 5, 
Est. 27 Desember 2013

Thursday, 10 March 2016

Setelah selesai dengannya,
Aku mencoba hal baru.

Berbaur dengan keramaian. Keramaian yang paling menyenangkan adalah yang sesuai hobi,
Dan,
Keramaian yang paling nyaman adalah ramai yang manusianya sibuk sendiri.

Seperti telah mengetahui segalanya, aku berjalan lagi dengan pintu-pintu yang banyak aku hindari.
Dan ternyata, pintu-pintu yang dulu telah aku tutup tanpa sadar, belum bisa terbuka lagi.

Di dalamnya terkunci semua roh yang dulu menemani.

Kini, keramaian mudah sekali untuk dinikmati, sangat mudah bahkan terlalu mudah.
Sendiri di antara manusia lain adalah hal yang biasa.

Semuanya seperti biasa saja. Tidak lagi turun bahkan naik. Inilah rasanya mati semu. Bahkan tertawa saja harus dibuat dan menangis harus mencari alasan. Seperti tidak hidup padahal,

Aku rindu rasanya hidup.

Salahnya, saat aku hidup, aku rindu rasanya mati.

Semuanya kini jelas. Semua tangan yang bergandeng denganku memang masih belum lepas, tapi ada saatnya mereka nanti lepas.
Di saat kepentingan mempunyai cabang yang tidak satu arah.
Sudah terbukti, kepentingan adalah hal nomor satu di hidup manusia.

Seharusnya, pengertian sosiologi tentang
"Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain"
Harus ditambah dengan
"Untuk memenuhi kepentingan masing-masing"

Aku melamun lagi di keramaian ini, melongo ke pintu keluar.
Aku sadar, secara tidak langsung, kita semua adalah korban kepentingan.

Lalu mengapa masih menangis ketika kita ditinggalkan?
Mengapa masih heran?
Aneh, seharusnya kita terbuka,
Itu adalah hal biasa.

Hal yang wajar jika kita takut berkenalan dengan manusia lain,
Aku bahkan menjadi takut untuk mempunyai kenalan
Aku bahkan curiga dengan manusia yang ada di sekelilingku
Aku bahkan mencari tahu,
Apa kepentingan mereka.

Membuatku paranoid, tidak lagi mencari manusia seperti apa yang akan aku dekati,
Tapi malah kepentingan apa yang sama dengan kepentinganku.

Siapa yang harus disalahkan? Ini kenyataan, fakta yang tidak diungkap dengan artikel karena ini hanya perspektif anak SMA yang habis ditinggal relasinya.

Walaupun relasinya masih ada di depan mata, rasanya kosong.

Aku masih merindukan hidup
Tidak.
Aku merindukan relasiku.

Menulis ini, seperti bocah ngelantur yang menggeram untuk mendapatkan permennya.

Aku menulis ini karena kecewa.
Dengan dunia tapi bukan dengan semesta apalagi Tuhan.
Hanya kecewa saja.
Di tahun terakhir, malah mati diam-diam dan mencoba untuk bangkit.

Aku menulis ini karena kecewa
Dimana semua orang?
Manusia-manusia yang dulu ada
Senyum dan tawa spontan, yang tidak dibuat-buat.

Maaf, aku tidak pernah lagi merespon bumi, aku malas
Sudah capek dan sudah bosan
Lebih baik di sini,
Walaupun stagnan.

 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff