Friday, 24 July 2015

Saya menulis setiap kata sedih dan merindu di sini bukan untuk meminta kasihan dari objeknya.

Tulisan ini bukan hanya untuk anda, tulisan ini saya buat untuk semua yang membaca dan bagi orang-orang yang mungkin punya rasa yang sama seperti apa yang saya tulis.

Anda tidak bisa marah pada saya karena tulisan-tulisan ini.
Sama saja seperti anda marah kepada seseorang yang selalu duduk karena dia lumpuh.
Kemana saya harus bebas bercerita selain pada tulisan saya sendiri?
Tidak mungkin saya bercerita pada anda tentang meringis merindukan anda, berbahagia saat anda menyapa saya bahkan cemburu saat anda menatapnya.

Karena saya belum butuh respon, saya cuma butuh pikiran saya diluberkan.
Sama seperti orang depresi yang membanting-banting barang, saya butuh mengeluarkan emosi agar saya tidak sakit atau gila.

Tulisan ini bukan hanya untuk anda, lalu mengapa anda mengeluarkan surat protes kemudian berlari meninggalkan saya?
Pintu itu sudah anda tutup lagi, saya terkunci di rumah saya sendiri.

Maka leluasakanlah saya dengan pena dan kertas, saya bisa merangkai kalimat tentang anda sampai setiap huruf berubah bentuk menjadi wajahmu.

Maka lemparkanlah saya dengan pena dan kertas, saya bisa membayangkan wajahmu lalu menggambarnya, sampai setiap garis terukir kata yang ingin saya sampaikan.

Untuk apa anda melempari roti kepada saya?
Karena katanya, "Jika seorang yang patah hati dilempar ke dalam segudang roti, ia akan mati kelaparan."

Saya hanya butuh kunci pintu jati saya yang ada di tangan anda agar saya bisa berpindah dari rumah yang sudah bobrok ini.

Setiap terbit dan terbenamnya matahari, saya selalu dibisikkan setan dan malaikat tentang betapa meruginya saya atau bersyukurnya saya terhadap apa yang saya lalui dengan anda.

Maka, saya mohon jangan anda melarang saya menulis.
Bukankah mempunyai hubungan dengan penulis itu menyenangkan dan didambakan, huh?

"Jatuh cintalah kepada penulis,
Maka kisahmu akan hidup selamanya"

Lalu, bolehkah saya menulis lagi tentang semua di sini?

Tuesday, 14 July 2015

Mungkin saya hanya uap teh yang menempel di gelas anda.

Uap yang berusaha menghangatkan teh untuk anda minum, tetapi anda tidak pernah melihat, bahkan berterimakasih.

Apa yang saya lakukan?
Berangan-angan bahwa kebetulan itu akan selalu nyata?
Seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri, saya hanya diam di tempat, tetapi saya lelah.

Ia pula mungkin terlihat seperti gelas polkadot kesayangan anda yang anda sendiri tidak ingin mengakui bahwa benda itu hal paling favorit.

Pada kesalahan paling buruk, mungkin saya baru menyadari sekarang.
Atau ini memang permainan pikiran tentang waspada?
Entah kenapa, saya yakin ia pula lebih favorit daripada saya.

Bahkan saat anda disuguhkan dua nama, dua wajah, dan dua peran yang berbeda, anda berpikir keras.
Anda menimbang-nimbang.
Dan anda menyebutkan namanya, ia yang ibaratnya gelas kesayangan anda.

Waktu itu, saya pulang dengan isi pusat dada yang hilang, seakan runtuh, bahkan saya masih bisa merasakannya.
Saya terus menyalahkan bayangan anda dalam perjalanan pulang.

Mengapa anda tidak menyebut nama saya yang selalu ada untuk anda?
Mengapa harus dia?

Uap teh memang selalu berdampingan dengan gelasnya, tetapi apa yang membuat satu uap menarik?

Dan ternyata, walaupun bukan tertuju bulat-bulat kepadanya, saya hanya ingin, saya terlihat.
Bukan terlihat karena saya selalu ada di sampingnya.

Saya akan terlihat gila untuk mengakuinya, malah akan terlihat tidak berotak dan berakal, tetapi, Ia memang api saya dari awal.
Bahkan tidak hanya untuk anda,
Ia api saya untuk segala yang hadir di setiap lini waktu milik saya.
Tapi, bagaimana lagi?
Saya pasti kalah.

Sunday, 28 June 2015

Selamat siang
Jika Anda setidaknya melihat atau malah membaca, apa kabar?

Biar saya memberitahukan anda bagaimana ia selama ini merawat tamannya sendiri.

Tamannya memang sudah rusak dengan semak belukar yang menjerat, daun yang gugur, pohon yang agak meranggas, tapi dari sana, ia masih selalu mengunjungi tamannya. Jika sempat dan mau, ia membersihkannya, duduk di bangku panjang menghadap latar yang cukup sepadan dengan indah.

Demi tamannya, ia bisa meninggalkan tempat nyamannya. Rumah megah miliknya yang hanya dihuni satu manusia walaupun terkadang ia mengadakan pesta borjuis di sana, sekedar menghibur saja, padahal, ia akan selalu merasa sepi setiap tamunya pulang.

Satu yang ia pantau dari tamannya.
Ia selalu menggunting mawar yang akan tumbuh.
Ia masih takut untuk melihat mawar.
Bunga yang indah namun menikam dengan durinya.

Sampai kepada satu hari,
Ada ketukkan pada pintu jati miliknya.
Seseorang yang tak pernah asing dan tidak pernah ia biarkan memasukki rumahnya.
Orang itu terasa selalu menunggu dibukakan pintu sementara ia menunggu di baliknya, berdoa agar segera pergi.

Lambat laun, doa itu rasanya kurang diberkahi, malah mendobrak kayu itu.
Ia ketakutan, bingung, hingga tidak ingin bertemu orang tersebut.

Seseorang itu duduk di sofanya, malah sekarang ia berhadapan dengannya.
Ia diam, lalu percakapan dimulai dari pihak seberang.
Takut itu mulai menjadi rasa senang.
Ringisan itu mulai menjadi tawa.
Kebingungan bahkan mekar menjadi nyaman.
Entah apa yang ia rasakan, yang ia tahu pikirannya sudah hilang.

Obrolan sofa tersebut menjadi hangat dengan dua gelas teh panas.
Ia mulai menyilangkan kaki tanda ia menikmati.

Namun ia lupa dengan mawarnya.
Ia lupa menggunting mawar yang tumbuh.
Seakan ia teringat, berlarilah cepat ke tamannya.
Aneh, mawarnya sudah tumbuh dan menjadi liar lebih dari yang diekspektasikan.
Ia mengambil gunting dan membawa orang tersebut melihat mawar yang bermekaran itu.

Ironinya, bahkan orang tersebut menyembunyikan gunting yang akan dipakai untuk memotong.
Orang itu memberikan harapan kepadanya agar ia membiarkan mawar-mawar itu bermekaran.
Ia hanya terhipnotis sampai ia memang membiarkannya.

Pada hari terakhir di minggu kedua, ia kembali duduk di bangku taman tersebut, tentu bersama orang itu. Ia memandangi mawar-mawar indah, seakan-akan ia lupa rasanya melihat merah yang begitu pekat tapi memikat.
Ia beranjak.
Mengambil setangkai mawar walaupun ia tahu durinya bisa membuat ia berdarah.

Tangannya menjulurkan mawar kepada seorang itu, tetapi apa yang ia dapatkan?
Jarinya yang mengeluarkan darah bergetar, mawar yang ia ambil dilempar begitu saja.
Lalu ia diseret lagi kepada mawar-mawar itu.
Orang itu memuji indahnya mawar yang ia miliki, setidaknya pujian dapat mengobati jarinya yang gemetar.

Tapi ternyata tidak.
Ceritanya belum pernah berakhir bahagia.
Orang itu mendorong jatuh ia ke dalam kumpulan tangkai berduri tersebut.
Ia terjerembab.
Segalanya dipenuhi luka.
Ia termakan lupanya sendiri atas mawar itu.

Seorang itu telah menutup pintu utamanya lagi saat ia mulai bangun.
Pagi itu ia merasakan bangun dengan keadaan yang tidak pernah mengenakkan.
Bangun dalam keadaan ditinggal dan luka yang bertebaran.
Ia bahkan tidak bisa menyalahkan seseorang itu karena ialah yang lupa menggunting.

Ia bangkit seolah-olah ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Air matanya tidak lagi basah.
Hanya sesak yang dirasakan.
Sesak itu membuat ia gila.

Kegilaan itu memberinya semangat untuk mengambil bensin sebanyaknya dan ia hilang kendali dengan memadukannya dengan korek api.

Mawar itu ia siram, lalu ia tenggelamkan dengan api yang besar.
Sangat besar bahkan wajahnya memerah, memanas, sedangkan matanya mulai berair.

Mawar itu hangus, hitam dan rapuh.
Ia tidak ingin lagi melihat mawar itu tumbuh, ia tidak pernah ingin.

Mawar-mawar tersebut telah menjadi abu.
Sayangnya, ia masih mengalami kegilaan tersebut.
Ia tahu lambat laun ia akan pulih tapi sekarang bukan saatnya.

Ia berterima kasih kepada anda karena akhirnya ia bisa membakar mawar semunya itu.
Dan ia hanya ingin mengobrol dengan anda satu kali lagi, tidak dengan sofa, ia hanya ingin waktu sebentar, berdiri di depan pintu pun tidak apa, tapi yasudah, ia hanya ingin menyampaikan ini.

Goodbye, then.

"The most obvious and well known meaning of the red rose is deep love and affection."

Thursday, 28 May 2015

Lalu, saya harus apa?
Pecahan ini semakin menjadi kerikil

"Semua tidak harus diperbaiki", katamu.
Ya, memang tidak ada lagi yang bisa.

×××

Menengadahkan tangan seperti ditodong pistol
Doa akan selalu berguguran
Tidak restu atau tidak mempan?

Seperti butir yang rata
Bahkan doa saja tidak pernah menyentuh setitik kecil itu
Dari bertemu, lalu jatuh bekas ranting yang meranggas

Butiran doa itu bahkan menjadi dandelion
Anak dandelion tidak semua selamat, bukan?
Hanya satu dua yang tamat
Lainnya?
Dibawa angin, terhuyung-huyung tidak sampai tempat.

Kamu kah yang mengikat saya?
Seperti dililit ranjau
Usaha lepas, saya mengigau
Berdiam diri, saya meracau
Selalu salah

Berani saya hanya setangkai kaki bangau
Kaki cacat bahan sintetis
Bahkan bangau enggan bersyukur

Sebenarnya arti Kita dalam kamus itu apa?
Saya mencari, berlembar halaman, berpuluh buku, bahkan beratus orang pintar
Saya tidak menyerah

Lalu saya tanya kamu,
Jawaban sederhana itu mencuat
Buat saya menatap pucat
Kamu hanya mencuap

"Tidak pernah ada kata itu di sini"

Ibarat seperti tidak menganggap lembah hangat di antara dua puncak
Layaknya tidak mengakui korupsi itu penyakit
Seperti vodka dua botol yang tidak memabukkan
Bahkan seperti menganggap ibu kota itu lengang
Semua teorimu, semu. 

Kamu membuat teori itu sendiri
Hipotesa saya malah jadi tanya
Iya, kah?
Benarkah kamu tidak pernah serius?
Bahkan penyakit jadi bahan tawamu?
Kebutuhan hanya menghakikatkanmu?

Ini lagi kesalahanku
Bulan Mei selalu menjadi-jadi
Mengiris setiap hati
Entah hati itu apa?
Jika lunak, ia seonggok daging penyakitan yang kambuh
Jika keras, berarti ia besi, bukan baja tahan banting

Lalu saya itu apa?
Saya menunggu di meja nomor 9
Kopi hitam panas yang saya coba
Beserta ampasnya

Meneguk tiga kali saya menerima
Keempat kali kerongkongan melepuh
Panas, pahit, kasar, ampas buat saya tersedak

Minuman kesukaanmu malah membuat saya hampir mati
Bertanya, "apa nikmatnya minum kopi?"

Selaras dengan pertanyaan orang patah hati,
"Apa nikmatnya mencintai?"

Friday, 1 May 2015

Deru mesin meramaikan malam
Klakson nyata memecah hening
Sorot lampu mulai menyilaukan mata

Saya tidak tidur, masih segar melihat hutan jawa yang gelap itu
Mengawang, apa saja yang ada di dalamnya?
Sekelebat pikiran itu datang
Untung bukan wanita berkain putih dalam gelap
Hanya wanita yang saya kira sedang dekat dengan anda

Saya menengok kursi belakang
Anda belum pula tertidur
Bahkan di dalam kendaraan balok ini, hanya kita, penumpang yang masih berpikir
Saya bertanya, apa yang anda pikirkan?
Apakah sama dengan saya?
Tentang wanita itu?

Dengan cepat, saya mengalihkan pandangan lagi
Saya kira, saya sudah sembuh
Sembuh dari cabikan rindu terhadap anda

Di pusat malam ini, ternyata saya baru sadar
Anda tidak akan pernah keluar dari pintu otak saya
Meskipun saya sudah merobohkan pintu itu berkali-kali
Anda sudah membangun rumah megah di hati saya
Ironinya, rumah megah itu kosong
Tidak berpenghuni

Dalam perjalanan terakhir ini,
Sebelumnya saya berjanji
Jika saya masih memelihara rasa terhadap anda,
Saya akan mengucap kencang di puncak Bromo
Saya kira, saya sudah melepaskan rasa itu,
Tapi, saat melihat anda, rasa itu kembali
Hukumlah saya karena bualan ego itu
Hanya seorang yang tidak menepati janji
Pengecut yang tenggelam dalam sedih sendiri
Pembunuh rasa yang sadis, karena tidak membiarkan kata-kata mewakilinya

Lucunya, ketika rasa itu masuk kandang, diantarkan senyum manis,
Anda malah bercengkrama dengannya
Berdua
Berdiskusi tentang warna
Basa-basi keadaan
Bahkan anda siap menjadi sosok berani di depannya padahal saya tahu anda sangat cemas

Saya menengok jendela sopir
Ia tidak bergeming apapun tentang lampu sorot jauh yang silau mengalahkan terangnya bulan
Ia sudah terbiasa

Apa yang akan saya perbuat saat melihat  keadaan anda dengannya?
Tidak ada

Saya sudah seperti sopir di depan
Keadaan yang menyilaukan itu sudah jadi biasa
Saya cuma bisa menarik persneling dan tancap gas
Sambil berdoa,

Perjalanan terakhir ini akan baik-baik saja.

Monday, 20 April 2015

Malam ini saya hanya ingin bersenda gurau, ya mungkin agak menyimpang sedikit.
Guyonan tentang patah hati selalu ada. Literatur tentang patah hati sudah menjamur. Bahkan, patah hati bisa menjadikan seseorang menemui profesinya.

Mengulas patah hati tidak akan pernah habis. Selalu datang, akan selalu terasa, dan pasti akan selalu nyata. Mengapa patah hati menjadi rasa yang paling tenar dalam hidup? Seakan-akan, jika tidak pernah patah hati, akan ditewaskan dengan kata-kata "Tidak punya perasaan", dan semacamnya. Mengapa pula patah hati menjadi hal yang tabu untuk dijalani setiap rutinitas? Jika orang-orang mulai melihat anda berpatah hati setiap hari, maka anda akan mendapat perkataan "orang lemah!", di balik anda.

Dan, mengapa anda menyebut rasa yang sakit, sesak dan tidak enak itu adalah "Patah Hati"? Ya, karena rasa sakit itu terlalu nyata di pusat dada. Padahal, anda tahu, hati berada dimana, sedangkan yang ada di dada sebut saja paru-paru. Mengapa kita tidak menyebutkannya dengan "Patah paru-paru?".  Lagi-lagi, sebutan itu adalah hal konyol.

"Patah Hati" pula adalah hal konyol bagi saya. Saya menggunakan rasa "Patah Hati" untuk menulis di sini, untuk saya tuangkan pada kertas yang saya gambar, dan untuk saya nikmati. Sekedar "Patah Hati" adalah hal yang mudah dan masih dapat dinikmati. Menikmati dengan satu kopi susu, bukan kopi hitam yang terlalu pahit, karena kafein akan dibutuhkan untuk menopang rasa kantuk ketika mata ingin menagis sejadi-jadinya. Bisa pula menikmati dengan lagu, maka, pasanglah headset yang anda punya, karena suara dari musik itu akan terdengar lebih dekat dan seakan mengalir di darah, membawa setiap lirik ke dada yang sesak sambil berpura-pura menjadi perban "Patah Hati". Nikmatilah "Patah Hati" dengan cara anda masing-masing, maka hal buruk itu akan terasa baik.

Tapi, tahukah anda yang lebih buruk dari "Patah Hati"? Mungkin anda belum pernah merasakannya. Hal yang lebih buruk dari "Patah Hati" ialah Hati yang  Pecah. Bagaimana bisa keadaan itu lebih buruk dari "Patah Hati?". Keadaan itu sangat buruk. Hati yang pecah adalah hati yang ringkih lalu dilempar dan menjadi berkeping-berkeping, berbeda dengan "Patah Hati", yang hanya patah, menjadi 2 bagian.

Hati yang pecah sangat membingungkan. Kepingannya sangat menjengkelkan. Keping itu pula yang menawarkan beberapa jalan dan dengan kejamnya, memaksa kita untuk memilih satu atau dua dari kepingan tersebut. Hati yang pecah tidak pernah baik, dan tidak pernah rapi. Selalu ada kegaduhan dan ruangannya akan selalu berantakkan.

Mengapa lebih buruk? Hati yang pecah sanggup membungkam mulut empunya. Ia juga sanggup menutup pikiran pemiliknya. Membuat pemiliknya bingung sehingga memilih untuk diam. Tidak seperti "Patah Hati" yang bisa diceritakan dengan mudah. Hati yang pecah hanya untuk diri sendiri, keadaan dimana kita akan tahu cerita serumit ini tidak akan dimengerti orang lain, sampai orang itu merasakannya sendiri. Hati yang pecah akan selalu dipendam, dipungut kepingnya walau keping itu akan terbagi lagi.

Mengapa lebih buruk? Hati yang pecah seperti memojokkan pemiliknya. Pemiliknya tidak akan berselera apa-apa. Mendengarkan musik kesukaannya pun, terlihat bosan dan tabu. Minum pun akan dirasa pahit walaupun kopi susu diganti dengan teh manis. Hati yang pecah membuat pemiliknya tidak bisa apa-apa. Hanya berpura-pura menjalani hari dengan baik dan seperti tidak ada apa-apa. Bahkan, pemiliknya tidak dibolehkan menangis, air mata tidak pernah keluar lagi untuk menumpah ruahkan perasaan.

Penderita Hati yang Pecah, disiksa di dalam satu ruang di tubuhnya, satu organ yang tidak pernah nyata dan hanya bisa dirasa, ruang itu di dalam dada, entah apa nama ruang itu.
Tetapi, yang pasti, Hati yang Pecah, adalah hal yang tidak menarik untuk dijalani.

Dan, saya belum tahu apa obat yang paling hebat untu Hati yang pecah, namun, untuk "Patah Hati", sekedar quotes hanya seperti perban sesaat, yang menjadi obat merah adalah bagaiman kita menanggapi rasa ini sendiri.

Jadi, pernahkah anda menjalani keadaan Hati yang Pecah? Hahaha

Monday, 13 April 2015

Satu senyum berbeda
Selalu ada dimanapun berada
Senyum itu sangat menggoda
Entah kenapa, saya candunya tanda
Ternyata senyum itu milik anda

Senyum yang saya suka
Garis lengkung yang spesial untuk saya, tapi biasa untuk mereka
Melihat senyum itu, saya bisa tersenyum kadang hanya tertawa belaka

Senyum itu pula saya benci
.
.

Saya benci bagaimana saya bisa terhipnotis oleh senyum itu. Senyum yang hanya dimiliki oleh anda.

Entah, siapa, sih anda itu? Pejabat? Bukan. Astronot? Bukan. Artis? Bukan juga.

Siapa, sih anda itu? Sebegitu pentingkah untuk saya? Sepenting apakah anda di mata saya, sampai senyum anda pun bisa buat saya lupa diri.

Biasanya, saya senang melihat senyum mengembang di wajah orang-orang, tetapi, saya mulai benci melihat senyum di wajah anda.

Di wajah yang selama ini saya simpan di dalam bayang semu, bahkan di dalam hati pula walau hati tidak pernah bisa membayangkan.

Senyum itu pula yang selalu membuat saya berpikir "tidak apa".
Karena, setiap saya bertanya, anda biasa tidak menjawab, hanya tersenyum. Dan senyum itu membuat saya gila lalu membelotkan suasana berpikir, "ah tak apa jika tidak dijawab", padahal saya butuh jawaban.

Senyum itu seakan meredakan segalanya. Walaupun saya dan anda tidak sedang berinteraksi, senyum itu bisa lewat kapan saja di otak saya. Saya benci bagaimana gambaran itu sering terlintas. Takut menumbuhkan kangen.
Kangen yang harus disingkirkan secara paksa, karena saya rasa kangen itu konyol.
Sudah tiap hari bertemu, rasa kangen masih ada? Konyol.

Pokoknya, itu satu senyum yang berbeda. Senyum yang saya suka, tapi saya benci juga. 

 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff